Prosesi evakuasi dan penguburan bangkai hiu paus (Rhincodon typus) berukuran 5 meter dengan bobot mencapai 1,5 ton di Pantai Sanghiangkalang, Batukaras, menyedihkan sekaligus menarik perhatian warga yang memadati lokasi. Mengingat dimensi tubuh satwa yang sangat besar, petugas gabungan harus mengerahkan alat berat berupa ekskavator untuk merampungkan proses penguburan pada Selasa siang.
Sisi Lapangan: Perjuangan Penguburan Menggunakan Alat Berat
Setelah berjuang semalaman menjaga bangkai mamalia laut yang mati tepat tengah malam akibat terjebak air surut, tantangan berikutnya bagi aparat gabungan dari Polsek Cijulang, PSDKP Pangandaran, dan dinas terkait adalah penanganan akhir di bibir pantai. Ukuran raksasa serta berat badan hingga 1,5 ton membuat proses pemindahan tidak memungkinkan dilakukan secara manual oleh warga.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, sebuah unit ekskavator diterjunkan ke area pasir pantai untuk menggali lubang berukuran besar serta mengangkat bangkai satwa dilindungi tersebut secara hati-hati. Dokumentasi eksklusif tim kami merekam bagaimana alat berat bekerja keras menimbun kembali sisa bangkai hiu demi menjaga kebersihan lingkungan pantai serta menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Karena ukurannya yang masif dan bobot mencapai 1,5 ton, penanganan bangkai hiu tutul ini wajib dilakukan secara terpadu menggunakan alat berat agar proses penguburan di sekitar garis pantai berjalan tuntas dan higienis." — Tim Evakuasi Lapangan
Kronologi & Akhir Perjalanan "Ikan Naga Bintang"
Sebelum prosesi penguburan ini dilakukan, kemunculan hiu berukuran 5 meter tersebut sempat menggegerkan warga sejak Senin sore (3/8/2026). Dikenal oleh nelayan lokal sebagai "ikan naga bintang", satwa penjelajah lautan ini sempat diupayakan untuk didorong kembali ke perairan dalam oleh puluhan nelayan dan petugas PSDKP Deni Sugia Permana dkk., namun takdir berkata lain karena kondisi air laut yang terus surut.
Fokus
Foto-foto eksklusif penguburan menggunakan ekskavator ini mengabadikan detik-detik akhir penanganan satwa langka di pesisir Cijulang, sekaligus menjadi arsip penting penanganan darurat biota laut terdampar di Kabupaten Pangandaran.

