Iran Akui Khamenei Gugur Diserang AS-Israel, 40 Hari Berkabung
Teheran – Pemerintah Iran mengonfirmasi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kabar duka itu diumumkan sejumlah media resmi Iran pada Minggu (waktu setempat).
Sejumlah kantor berita pemerintah seperti Tasnim News Agency, Mehr News Agency, dan Press TV secara serentak menyebut pemimpin berusia 86 tahun tersebut telah “syahid” dalam serangan tersebut.
Dalam pernyataan resmi, disebutkan Khamenei tewas dalam apa yang disebut sebagai “serangan bersama Amerika kriminal dan rezim Zionis.”
Disebut Tewas Saat Bertugas
Pemerintah Iran menegaskan, saat serangan terjadi, Khamenei tengah menjalankan tugasnya dan berada di tempat kerja. Pernyataan itu sekaligus membantah klaim Israel yang menyebut Khamenei bersembunyi di lokasi aman.
“Pada saat kesyahidan, beliau sedang melaksanakan tugas yang diemban dan berada di tempat kerjanya ketika serangan pengecut itu terjadi,” demikian pernyataan resmi yang dikutip media pemerintah Iran.
Iran Umumkan 40 Hari Berkabung
Kantor Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan Iran akan menggelar masa berkabung nasional selama 40 hari.
“Kejahtan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa balasan dan akan menandai babak baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah,” demikian isi pernyataan tersebut.
Pemerintah Iran juga menegaskan akan membalas pihak yang dianggap bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Trump dan Netanyahu Sempat Klaim Kematian
Konfirmasi resmi dari Teheran muncul setelah beredar laporan simpang siur terkait nasib Khamenei.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social menyebut Khamenei telah meninggal dunia. Pernyataan itu disampaikan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ada “banyak tanda” bahwa pemimpin tertinggi Iran tersebut “tidak lagi ada.”
Netanyahu mengklaim kompleks kediaman Khamenei dihantam serangan mendadak berskala besar. Ia bahkan menyebut ribuan target lain dalam kepemimpinan Iran akan menjadi sasaran dalam beberapa hari ke depan serta menyerukan warga Iran turun ke jalan.
Serangan Disebut Operasi Preemptive
Washington dan Israel menyebut operasi tersebut sebagai langkah “preemptive” atau serangan pendahuluan. Targetnya mencakup jajaran kepemimpinan Iran serta fasilitas militer dan nuklir.
Trump menyatakan operasi itu bertujuan melumpuhkan industri rudal dan kekuatan angkatan laut Iran, serta mendorong perubahan rezim di Teheran.
Sebagai respons, Iran dilaporkan meluncurkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Rusia Kutuk Serangan
Pemerintah Rusia turut mengecam operasi militer tersebut. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut serangan itu sebagai tindakan agresi yang direncanakan dan tidak diprovokasi.
Moskwa menilai operasi tersebut bertujuan menjatuhkan pemerintahan yang dianggap tidak sejalan dengan tekanan kekuatan global tertentu.
Situasi di kawasan Timur Tengah kini memanas dan memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas.
Sumber
Informasi dalam artikel ini dihimpun dan diolah dari laporan media internasional Russia Today (RT) serta pernyataan resmi yang disampaikan kantor berita pemerintah Iran seperti Tasnim, Mehr, dan Press TV.

