Lobster Jumbo Pangandaran Kian Langka, Nilai Ekonominya Fantastis

Lobster Jumbo Pangandaran Kian Langka

Pangandaran - Lobster jumbo di perairan Pangandaran kini makin langka ditemukan. Padahal, kawasan pesisir selatan Jawa Barat itu dulu dikenal sebagai salah satu gudang lobster besar, khususnya jenis lobster mutiara.

Kelangkaan lobster jumbo di Pangandaran diduga dipicu maraknya penangkapan benih bening lobster (benur) yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut diungkapkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran, Jeje Wiradinata.

Jeje mengaku baru kembali menemukan lobster mutiara berukuran besar saat mengunjungi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cikidang, Pangandaran, Sabtu (5/6/2026).

Lobster Jumbo Pangandaran Mulai Langka

"Pagi tadi saat ke TPI untuk cek jual beli ikan, kebetulan saya juga ketua KUD. Setelah sekian lama, saya baru lagi menemukan lobster jumbo jenis mutiara dengan bobot 1 kilogram," ujar Jeje saat ditemui di TPI Cikidang.

Menurut Jeje, lobster mutiara berukuran jumbo saat ini sudah sangat jarang ditemukan di laut Pangandaran. Ia menyebut, kondisi tersebut berbeda jauh dibanding belasan tahun lalu ketika lobster besar masih mudah didapat nelayan.

"Sekarang lobster seperti ini sudah langka sekali," katanya.

Penangkapan Benur Lobster Jadi Penyebab

Jeje menilai maraknya penangkapan benur menjadi salah satu penyebab utama menurunnya populasi lobster dewasa di Pangandaran. Menurutnya, banyak nelayan memilih menangkap lobster usia muda demi keuntungan cepat, padahal nilai ekonomi lobster dewasa jauh lebih tinggi.

Ia membandingkan harga lobster kecil yang biasa dijual sekitar Rp 300 ribu per kilogram dengan lobster mutiara dewasa yang bisa menembus Rp 1.050.000 per kilogram.

Baca Juga : Ini Ragam Kuliner di Area Pelabuhan Cikidang

Nilai Ekonomi Lobster Mutiara

"Coba bayangkan, kalau baby lobster ini tidak disakiti dan dibiarkan hidup sampai besar seperti ini, uang yang didapat nelayan akan berkali-kali lipat. Satu ekor saja bisa sejuta lebih," ucapnya.

Menurut Jeje, praktik penangkapan benur justru membuat nelayan kehilangan potensi pendapatan besar di masa depan.

Krisis Ekologi Laut Pangandaran

Selain berdampak pada ekonomi nelayan, Jeje menyebut penangkapan benur secara masif juga menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut Pangandaran.

Ia mengenang masa kecilnya ketika hasil tangkapan lobster masih melimpah. Saat itu, nelayan bisa membawa pulang lobster dalam jumlah besar dengan lebih mudah dibanding sekarang.

"Di zaman saya kecil, bapak saya mencari lobster bisa sampai satu kuintal atau 30 kilo. Dulu uang Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu itu sudah sangat besar," kenangnya.

Kini kondisi berbalik drastis. Bahkan untuk menemukan benur lobster saja nelayan mulai kesulitan.

"Sekarang mencari benur saja takut tidak ada barangnya. Susah," katanya.

HNSI Pangandaran Minta Regulasi Tegas

Melihat kondisi tersebut, Jeje meminta pemerintah daerah dan pemangku kebijakan segera mengambil langkah tegas untuk melindungi populasi lobster di Pangandaran.

Menurutnya, edukasi kepada nelayan saja tidak cukup tanpa diikuti aturan dan pengawasan yang jelas.

"Kita memberikan pemahaman seperti ini ke nelayan memang susah. Jadi saya bilang, ini tugas pengambil kebijakan di daerah, para pemegang aturan," tegasnya.

Jeje berharap seluruh pihak bisa bersinergi menjaga ekosistem laut agar populasi lobster kembali pulih dan kesejahteraan nelayan tetap terjaga.

"Kalau semuanya bersinergi menjaga lingkungan dan laut kita, baby lobster ini tidak ditangkap secara serampangan, hasilnya pasti akan menyejahterakan nelayan kita sendiri," pungkasnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Terbaru Lainnya di Pangandaran