270 Destinasi Wisata Pangandaran, Ekonomi Belum Merata
Data BPS menunjukkan jumlah daya tarik wisata dan usaha rumah makan tumbuh, namun keduanya terkonsentrasi di wilayah yang berbeda — membuka pekerjaan rumah baru bagi pariwisata daerah.
Kabupaten Pangandaran memiliki ratusan daya tarik wisata yang tersebar dari kawasan pesisir hingga pelosok kecamatan. Namun di balik besarnya potensi tersebut, muncul satu persoalan menarik: aktivitas ekonomi pendukung pariwisata belum tersebar seimbang di seluruh wilayah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pangandaran mencatat terdapat 270 daya tarik wisata (DTW) pada 2024, mencakup berbagai jenis destinasi yang menjadi bagian dari potensi pariwisata daerah. Di sisi lain, jumlah rumah makan dan restoran yang tercatat pada tahun yang sama mencapai 283 unit.
Sekilas kedua angka ini terlihat berimbang. Namun ketika dibedah berdasarkan kecamatan, terlihat konsentrasi aktivitas ekonomi yang cukup kuat di kawasan tertentu — sementara sejumlah kecamatan dengan destinasi terbanyak justru minim usaha kuliner pendukung.
Berdasarkan data DTW yang lebih rinci dalam publikasi BPS, wisata alam menjadi kategori paling dominan dengan porsi 64 persen, disusul wisata budaya sebesar 27 persen dan wisata buatan 9 persen. Komposisi ini menggambarkan karakter utama pariwisata Pangandaran yang masih sangat bergantung pada kekuatan bentang alam — pantai, sungai, curug, gua, perbukitan, hingga kawasan mangrove.
Parigi Unggul dari Sisi Jumlah Destinasi
Data BPS untuk 2023 mencatat Parigi memiliki 63 daya tarik wisata, terbanyak dibandingkan kecamatan lainnya, disusul Kalipucang dengan 45 titik, Cimerak 42 titik, dan Kecamatan Pangandaran sebanyak 30 titik. Artinya, pusat potensi destinasi Pangandaran tidak sepenuhnya berada di kawasan perkotaan atau pantai utama.
Di wilayah Parigi terdapat destinasi berbasis alam seperti Pantai Batu Hiu, Citumang, Santirah, Air Terjun Jojogan, dan sejumlah gua. Sementara Cimerak memiliki Pantai Madasari, Pantai Karang Seugeul, Pantai Keusik Luhur, sejumlah curug, hingga daya tarik wisata buatan seperti kawasan Pacuan Kuda Legokjawa.
Tapi Rumah Makan Justru Menumpuk di Kecamatan Pangandaran
Situasi berbalik ketika data bergeser ke usaha rumah makan dan restoran. BPS mencatat total 283 unit pada 2024, meningkat dibandingkan 211 unit pada 2022 — tambahan 72 unit usaha, atau naik sekitar 34 persen dalam dua tahun.
Namun persebarannya sangat timpang. Kecamatan Pangandaran menempati posisi teratas dengan 129 rumah makan dan restoran, hampir separuh dari seluruh unit usaha sejenis di kabupaten ini. Disusul Parigi dengan 50 unit, Cijulang 28 unit, Kalipucang 22 unit, dan Cimerak hanya 19 unit.
Ketimpangan Terlihat Jelas Saat Dua Data Disandingkan
Jika kedua kelompok data dibaca bersamaan, muncul kesenjangan yang cukup mencolok. Parigi memiliki 63 daya tarik wisata, namun rumah makan dan restorannya hanya 50 unit. Cimerak memiliki 42 daya tarik wisata, tetapi usaha kulinernya tercatat cuma 19 unit. Sebaliknya, Kecamatan Pangandaran memiliki 30 daya tarik wisata, jauh lebih sedikit dari Parigi maupun Cimerak, namun rumah makan dan restorannya mencapai 129 unit.
Perbandingan ini tentu tidak bisa serta-merta disimpulkan bahwa jumlah restoran harus selalu mengikuti jumlah destinasi, sebab usaha kuliner juga dipengaruhi jumlah penduduk, pusat perdagangan, akses jalan, hotel, arus wisatawan, daya beli, dan faktor ekonomi lainnya. Namun data ini memberi satu petunjuk penting.
Pangandaran tidak kekurangan destinasi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana aktivitas ekonomi ikut tumbuh di sekitar destinasi yang selama ini belum menjadi pusat keramaian.
Bukan Lagi Sekadar Menambah Destinasi Baru
Selama bertahun-tahun, pengembangan pariwisata kerap dikaitkan dengan pembukaan atau promosi objek wisata baru. Padahal dengan 270 daya tarik wisata yang sudah tercatat, persoalannya kini bisa bergeser dari mencari destinasi baru menjadi mengoptimalkan destinasi yang sudah ada.
Salah satu indikatornya adalah berapa lama wisatawan tinggal di Pangandaran dan seberapa banyak pengeluaran mereka berputar di masyarakat lokal — konsep yang dikenal sebagai length of stay. Wisatawan yang hanya datang ke satu objek, makan sebentar, lalu pulang, memberikan dampak ekonomi yang jauh berbeda dibanding wisatawan yang menginap, mengunjungi beberapa destinasi, makan di warung lokal, membeli oleh-oleh, dan menggunakan jasa masyarakat setempat.
Rantai Ekonomi Harus Mengikuti Wisatawan
Pangandaran sebenarnya memiliki bahan baku yang cukup lengkap untuk membangun pola tersebut. Wisatawan bisa datang melalui kawasan pantai utama, kemudian diarahkan menuju destinasi alam di Parigi, Cijulang, atau Cimerak. Dari sana, pergerakan wisatawan dapat terhubung dengan kuliner, homestay, hotel, transportasi lokal, produk UMKM, hingga atraksi budaya.
Pola seperti ini akan membuat manfaat pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada kawasan yang sudah ramai, tetapi juga membuka peluang bagi desa dan kecamatan yang memiliki potensi wisata namun belum memiliki ekosistem usaha pendukung yang kuat. Tantangan Pangandaran bukan lagi sekadar mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya, melainkan membuat wisatawan menjelajah lebih banyak tempat, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uang di wilayah lokal.
Pertumbuhan usaha rumah makan dari 211 unit pada 2022 menjadi 283 unit pada 2024 menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi yang mengikuti pariwisata masih terus berkembang. Bersama ratusan daya tarik wisata yang tersebar di seluruh wilayah, kedua data ini sebenarnya menunjukkan modal yang cukup kuat — tinggal bagaimana pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat membangun konektivitas di antara keduanya, sehingga uang wisatawan bisa berputar dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya.

