270 Destinasi Wisata Pangandaran, Ekonomi Belum Merata

EKONOMI PARIWISATA

Data BPS menunjukkan jumlah daya tarik wisata dan usaha rumah makan tumbuh, namun keduanya terkonsentrasi di wilayah yang berbeda — membuka pekerjaan rumah baru bagi pariwisata daerah.

270
Daya tarik wisata (2024)
283
Rumah makan & restoran (2024)
+34%
Pertumbuhan restoran 2022→2024

Kabupaten Pangandaran memiliki ratusan daya tarik wisata yang tersebar dari kawasan pesisir hingga pelosok kecamatan. Namun di balik besarnya potensi tersebut, muncul satu persoalan menarik: aktivitas ekonomi pendukung pariwisata belum tersebar seimbang di seluruh wilayah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pangandaran mencatat terdapat 270 daya tarik wisata (DTW) pada 2024, mencakup berbagai jenis destinasi yang menjadi bagian dari potensi pariwisata daerah. Di sisi lain, jumlah rumah makan dan restoran yang tercatat pada tahun yang sama mencapai 283 unit.

Sekilas kedua angka ini terlihat berimbang. Namun ketika dibedah berdasarkan kecamatan, terlihat konsentrasi aktivitas ekonomi yang cukup kuat di kawasan tertentu — sementara sejumlah kecamatan dengan destinasi terbanyak justru minim usaha kuliner pendukung.

Wisata Alam Masih Mendominasi
Komposisi jenis daya tarik wisata di Kabupaten Pangandaran (data 2023)
Sumber: BPS Kabupaten Pangandaran

Berdasarkan data DTW yang lebih rinci dalam publikasi BPS, wisata alam menjadi kategori paling dominan dengan porsi 64 persen, disusul wisata budaya sebesar 27 persen dan wisata buatan 9 persen. Komposisi ini menggambarkan karakter utama pariwisata Pangandaran yang masih sangat bergantung pada kekuatan bentang alam — pantai, sungai, curug, gua, perbukitan, hingga kawasan mangrove.

Parigi Unggul dari Sisi Jumlah Destinasi

Data BPS untuk 2023 mencatat Parigi memiliki 63 daya tarik wisata, terbanyak dibandingkan kecamatan lainnya, disusul Kalipucang dengan 45 titik, Cimerak 42 titik, dan Kecamatan Pangandaran sebanyak 30 titik. Artinya, pusat potensi destinasi Pangandaran tidak sepenuhnya berada di kawasan perkotaan atau pantai utama.

Di wilayah Parigi terdapat destinasi berbasis alam seperti Pantai Batu Hiu, Citumang, Santirah, Air Terjun Jojogan, dan sejumlah gua. Sementara Cimerak memiliki Pantai Madasari, Pantai Karang Seugeul, Pantai Keusik Luhur, sejumlah curug, hingga daya tarik wisata buatan seperti kawasan Pacuan Kuda Legokjawa.

Sebaran Daya Tarik Wisata per Kecamatan
Jumlah titik DTW terbanyak (data 2023)
Sumber: BPS Kabupaten Pangandaran

Tapi Rumah Makan Justru Menumpuk di Kecamatan Pangandaran

Situasi berbalik ketika data bergeser ke usaha rumah makan dan restoran. BPS mencatat total 283 unit pada 2024, meningkat dibandingkan 211 unit pada 2022 — tambahan 72 unit usaha, atau naik sekitar 34 persen dalam dua tahun.

Namun persebarannya sangat timpang. Kecamatan Pangandaran menempati posisi teratas dengan 129 rumah makan dan restoran, hampir separuh dari seluruh unit usaha sejenis di kabupaten ini. Disusul Parigi dengan 50 unit, Cijulang 28 unit, Kalipucang 22 unit, dan Cimerak hanya 19 unit.

Sebaran Rumah Makan & Restoran per Kecamatan
Jumlah unit usaha kuliner tercatat (2024)
Sumber: BPS Kabupaten Pangandaran

Ketimpangan Terlihat Jelas Saat Dua Data Disandingkan

Jika kedua kelompok data dibaca bersamaan, muncul kesenjangan yang cukup mencolok. Parigi memiliki 63 daya tarik wisata, namun rumah makan dan restorannya hanya 50 unit. Cimerak memiliki 42 daya tarik wisata, tetapi usaha kulinernya tercatat cuma 19 unit. Sebaliknya, Kecamatan Pangandaran memiliki 30 daya tarik wisata, jauh lebih sedikit dari Parigi maupun Cimerak, namun rumah makan dan restorannya mencapai 129 unit.

Destinasi vs Rumah Makan: Ketimpangan Antar-Kecamatan
Perbandingan jumlah DTW (2023) dan rumah makan/restoran (2024) pada empat kecamatan dengan destinasi terbanyak
Sumber: BPS Kabupaten Pangandaran, diolah

Perbandingan ini tentu tidak bisa serta-merta disimpulkan bahwa jumlah restoran harus selalu mengikuti jumlah destinasi, sebab usaha kuliner juga dipengaruhi jumlah penduduk, pusat perdagangan, akses jalan, hotel, arus wisatawan, daya beli, dan faktor ekonomi lainnya. Namun data ini memberi satu petunjuk penting.

Pangandaran tidak kekurangan destinasi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana aktivitas ekonomi ikut tumbuh di sekitar destinasi yang selama ini belum menjadi pusat keramaian.

Bukan Lagi Sekadar Menambah Destinasi Baru

Selama bertahun-tahun, pengembangan pariwisata kerap dikaitkan dengan pembukaan atau promosi objek wisata baru. Padahal dengan 270 daya tarik wisata yang sudah tercatat, persoalannya kini bisa bergeser dari mencari destinasi baru menjadi mengoptimalkan destinasi yang sudah ada.

Salah satu indikatornya adalah berapa lama wisatawan tinggal di Pangandaran dan seberapa banyak pengeluaran mereka berputar di masyarakat lokal — konsep yang dikenal sebagai length of stay. Wisatawan yang hanya datang ke satu objek, makan sebentar, lalu pulang, memberikan dampak ekonomi yang jauh berbeda dibanding wisatawan yang menginap, mengunjungi beberapa destinasi, makan di warung lokal, membeli oleh-oleh, dan menggunakan jasa masyarakat setempat.

Pertumbuhan Usaha Rumah Makan & Restoran
Jumlah unit usaha kuliner, 2022 vs 2024
Sumber: BPS Kabupaten Pangandaran

Rantai Ekonomi Harus Mengikuti Wisatawan

Pangandaran sebenarnya memiliki bahan baku yang cukup lengkap untuk membangun pola tersebut. Wisatawan bisa datang melalui kawasan pantai utama, kemudian diarahkan menuju destinasi alam di Parigi, Cijulang, atau Cimerak. Dari sana, pergerakan wisatawan dapat terhubung dengan kuliner, homestay, hotel, transportasi lokal, produk UMKM, hingga atraksi budaya.

Pola seperti ini akan membuat manfaat pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada kawasan yang sudah ramai, tetapi juga membuka peluang bagi desa dan kecamatan yang memiliki potensi wisata namun belum memiliki ekosistem usaha pendukung yang kuat. Tantangan Pangandaran bukan lagi sekadar mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya, melainkan membuat wisatawan menjelajah lebih banyak tempat, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uang di wilayah lokal.

Pertumbuhan usaha rumah makan dari 211 unit pada 2022 menjadi 283 unit pada 2024 menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi yang mengikuti pariwisata masih terus berkembang. Bersama ratusan daya tarik wisata yang tersebar di seluruh wilayah, kedua data ini sebenarnya menunjukkan modal yang cukup kuat — tinggal bagaimana pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat membangun konektivitas di antara keduanya, sehingga uang wisatawan bisa berputar dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya.

Pariwisata Ekonomi Daerah BPS Pangandaran UMKM

Catatan Redaksi

Harian Pangandaran menggunakan data dari publikasi resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pangandaran. Angka 270 daya tarik wisata dan 283 rumah makan/restoran merujuk pada data 2024 yang dipublikasikan dalam Kabupaten Pangandaran Dalam Angka 2025 (rilis 28 Februari 2025). Rincian jumlah daya tarik wisata per kecamatan serta komposisi 64% wisata alam, 27% wisata budaya, dan 9% wisata buatan merujuk pada data 2023 dari publikasi BPS sebelumnya. Perbedaan tahun data ditampilkan secara eksplisit agar pembaca tidak menganggap seluruh angka berasal dari periode yang sama. Angka rumah makan/restoran menggunakan data BPS terbaru yang dapat diverifikasi (283 unit pada 2024); angka 323 unit pada naskah awal tidak digunakan dalam artikel ini.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Terbaru Lainnya di Pangandaran